Kategori umur 13+ untuk film Barbie kurang tepat setidaknya dalam konteks indonesia. Apalagi masih ada bioskop yang meloloskan bocil-bocil di bawah 13 tahun. Bocil di sini itu beda dengan bocil Amerika sana. Adegan-adegan eksotis tentu sulit diterima oleh bocil di sini karena masih tabu. Apalagi akses pendidikan seksual tidak dimulai dari lahir ceprot. Sementra di sana, tanpa edukasi secara formal, pengetahuan seksual seolah timbul secara organik dari lingkungannya. Tidak sedang silau barat, tapi memang kondisinya begitu, setidaknya bocil di lingkungan saya begitu. Tapi tidak tahu juga bagaimana bocil urban ibu kota, mungkin beda.
Visual-visual eksotis di dalam film sulit dicerna oleh bocil di sini. Bayangkan, bocil-bocil ini dipaksa melihat Margot Robbie dengan outfit sexy-nya sementara di lingkungannya tidak pernah melihat yg seperti itu, pasti bingung. Apalagi ketidaksanggupan orang tua untuk menjelaskan fenomena ini karena orang tua pun tidak pernah tahu cara menafsirkan adegan eksotis ke dalam perspektif yang lebih bisa diterima bocil. Yang terjadi adalah orang tua menutup mata si bocil ini. Saya khawatir kalau bocil ini justru penasaran kemudian dia eksplor kemudian malah menemukan film The Wolf of Wall Street dengan adegan ikonik Margot Robbie flirting Leonardo D’Caprio. Bagaimana bisa ini dianggap film anak2. Sulit. Bocil kami belum siap menerima ini.
Selanjutnya, jangan tertipu dengan term “Barbie” yang memang kita kenal sebagai boneka lucu mainan anak-anak. Film Barbie tidak selucu itu kawan. Ya, walau ada balutan komedinya sih. Tp ini film serius. Jika niat kalian menonton Barbie untuk eskapisme maka kalian salah besar. Urungkan saja nonton Barbie. Mending pulang dan lanjut nonton serial drakor. Alih-alih untuk entertain dengan plot mudah dan ending yang memuaskan, film ini justru membuat kita mikir dan bermuhasabah dengan tema gender dan feminisme. Bagaimana tidak? Di awal film saja, narator bicara “Barbie akan menjawab semua masalah feminisme dan kesetaraan gender”. Tentu ini pernyataan yang sangat asertif.
Menghidupkan dunia Barbie yg merupakan objek khayalan anak-anak sebenarnya bukan hal baru dalam film. Ada Toy Story yang pasti sudah kalian tonton walau karaktenya masih dalam bentuk kartun. Tapi intinya adalah kita ditawarkan alternatif sudut pandang untuk memahami dunia. Ya, dunia mainan sebagai sudut pandang. Namun Barbie tidak berhenti di situ. Barbie menawarkan timbal balik antara realitas dengan fantasi. Khayalan yang difantasikan manusia di dunia nyata akan memengaruhi realitas yang ada dunia Barbie. Mungkin ini bisa disebut sebagai realisme magis walau kurang begitu yakin.
Dua dunia ini membawa idealisme sendiri-sendiri soal gender stereotype. Dunia Barbie dibayangkan sebagai dunia ideal bagi perempuan di dunia nyata, dunia yg mana dipimpin oleh perempuan. Perempuan bisa jadi apa saja. Laki-laki menjadi manusia nomor dua di sini. Sementara di dunia nyata merupakan anti thesis dari dunia Barbie yang mana pemimpin didominasi laki-laki dan perempuan yg jdi nomor dua. Asumsi saya, atas dasar ini sutradara kemudian menghubungkan dua thesis tersebut. Dimulai dari perjalanan menyeberang ke dunia nyata, Ryan Gosling ingin membalas dominasi feminin di dunia Barbie dengan membawa konsep patriarki dari dunia nyata. Sementara Margot Robbie yang sedang krisis eksistensi menuntut manusia di dunia nyata untuk berfantasi lain soal dirinya.
Di ending, film berhasil membuat dua perspektif gender dengan komunikasi antar subjek. Kondisi yg sangat ideal. Perempuan bisa jadi apa saja, laki-laki pun begitu. Tidak ada inferior dan superior. Tidak ada dominasi dan terdominasi. Komunikasi pun bukan subjek-objek tapi subjek-subjek. Menerapkan prinsip egaliter dgn sempurna, demokrasi utuh dan tidak semu. Sampai pada akhir film, saya sadar “INI DUNIA BARBIE. INI MASIH DUNIA BARBIE. DUNIA NYATA BELUM BERUBAH. PATRIARKI MASIH BISA TIDUR NYENYAK DAN MENYELINAP DI DALAM KESETARAAN GENDER”. Jalan keluar bioskop sambil mikir “Dunia ideal memang hanya ada dalam dunia khayalan, fantasi. Kesetaraan gender memang utopis”