AlineaFilm

"Ruang Kritik dan Kajian Film"

Ulasan Film 25 Feb 2026

Merasakan Trauma Gempa Yogyakarta 2006 melalui Film 05:05

Merasakan Trauma Gempa Yogyakarta 2006 melalui Film 05:05

Jika menonton film adalah sebuah eskapisme, maka film 05:55 bukan film yang tepat untuk memenuhi aktivitas tersebut. Penonton justru akan mengalami kesedihan mendalam saat menontonnya. 05: 55 adalah potret nyata fenomena bencana alam yang terjadi di Yogyakarta 2006 silam. Gempa berkekuatan 5,9 SR selama 57 detik ini hampir meratakan wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Tiara Kristiningtyas selaku sutradara, nampaknya bekerja keras dalam proses penggarapan. Tidak diragukan, film yang rilis tahun 2014 ini beberapa kali berhasil memenangi berbagai festival film tingkat nasional maupun internasional. Pada 2016, 05: 55 berhasil meraih Global Short Film di New York untuk kategori Best Cinematography.

Karya film ini memang terlihat handal dalam konsep sinematografinya. 05: 55 sengaja ditampilkan dengan format hitam putih. Konsep ini bisa dibilang unik dan lumayan jarang diaplikasikan dalam sebuah film. Selain itu, minimnya dialog juga menjadi perhatian saat menonton. Kedua elemen ini berhasil menambah kesan melankolis yang dihadirkan oleh 05: 55.

Hadirnya konsep monokrom dan minimnya dialog memaksa penonton untuk lebih fokus pada unsur lain dari film. Salah satunya adalah potret keseharian warga Yogyakarta yang kental dengan kesederhanaannya. Selain itu, audio non-verbal yang dihasilkan dari aktivitas warga, seperti suara motor, bayi menangis, detak jam dinding, burung, seretan sapu lidi, air mendidih, dan sebagainya juga menambah kesan tersendiri. Elemen ini mengajak penonton untuk berimajinasi dan merasakan. Di situlah letak keistimewaannya, di samping hanya sekadar fokus terhadap warna visual dan dialog.

Selain konsepnya yang tergolong unggul, film 05: 55 sesungguhnya juga berhasil menyalurkan trauma dan memori bagi penikmatnya. Trauma ini ditransmisikan atau dipanggil ulang ketika menonton. Proses ini sangat dipengaruhi oleh beberapa unsur yang membangun film seperti yang diulas di atas. Oleh karenanya film ini mempunyai pengalaman tersendiri bagi penonton.

Film berdurasi 12 menit ini, mencapai keheningannya saat layar berubah menjadi hitam dan hanya terdengar suara gempa. Puncak kekalutannya terdapat di akhir film, yang menampilkan efek nyata dari gempa. Sadar atau tidak sadar, bagi penonton yang tidak merasakan gempa ini secara langsung, akan mengalami proses transmisi memori dan trauma saat menonton scene ini. Penonton dipaksa merasakan kepiluan seperti yang tergambar dalam film. Bagi penonton yang sudah merasakan, menonton film ini seolah memangil ulang trauma dan memori masa lalu.

Hal lain yang perlu disoroti adalah mengenai pola dalam film. Film bertema bencana seperti ini selalu menampilkan warga pinggiran dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Film tidak menampilkan kondisi gempa di kota. Juga tidak menampilkan pekerja kantoran yang juga sama-sama terdampak gempa. Pola seperti ini juga muncul pada film Home Sweet Home (2019). Film berlatar bencana gempa di Palu ini mengisahkan kondisi warga miskin yang sedang kesusahan. Walaupun film ini bertema korupsi, namun tetap saja memanfaatkan kondisi kemiskinan dan kesusahan warga.

Memang benar, pola seperti ini jelas akan menambah kesan traumatik yang mendalam ketika menonton. Kenyataannya, film yang menampilkan kehidupan warga kota memang sangat membosankan. Dengan alasan ini, menampilkan kondisi warga pinggiran untuk sebuah premis film adalah jurus jitu untuk kesuksesan film. Tetapi mendramatisasi sebuah film dengan hanya memanfaatkan realitas kemiskinan untuk dijual di industri hiburan, apa tidak merupakan tindakan amoral?

Bagikan Artikel:

Link berhasil disalin!