AlineaFilm

"Ruang Kritik dan Kajian Film"

Kajian dan Kritik 25 Feb 2026

Estetika Kehilangan dan Maskulinitas yang Goyah dalam Gowok: Kamasutra Jawa (2025)

Estetika Kehilangan dan Maskulinitas yang Goyah dalam Gowok: Kamasutra Jawa (2025)

Gowok: Kamasutra Jawa (2025), karya Hanung Bramantyo, bukan sekadar film naratif, melainkan representasi kompleks dari pengalaman manusia, psikologi gender, dan interaksi sosial yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya Indonesia. Tokoh utama, Kamanjaya, seorang pemuda bangsawan, mengalami perjalanan psikologis yang intens, di mana kehilangan, runtuhnya maskulinitas, ambivalensi seksualitas, trauma psikologis, dan refleksi sosial saling berkaitan. Analisis ini memusatkan perhatian pada lima aspek utama: kehilangan sebagai estetika, runtuhnya maskulinitas, tubuh perempuan dan ambivalensi seksualitas, psikologi trauma dan rasa bersalah, serta refleksi sosial budaya.

Kehilangan sebagai Estetika: Perjalanan Emosi Kamanjaya

Dalam film pengalaman kehilangan menjadi fondasi yang membentuk seluruh narasi dan psikologi tokoh utama, Kamanjaya. Kehilangan yang dialaminya bersifat ganda: secara personal, ia kehilangan Ratri, perempuan yang menjadi pusat kehidupan emosionalnya sekaligus simbol identitas dan aspirasi sosial; secara simbolik, ia kehilangan kesempatan, kontrol atas hidupnya, dan kemampuan memenuhi ekspektasi patriarki yang membingkai peran laki-laki bangsawan. Kehilangan ini bukan sekadar tema emosional, tetapi menjadi medium naratif yang menegaskan bagaimana film menyampaikan pengalaman internal tokoh secara konseptual.

Sinema memungkinkan penonton merasakan psikologi tokoh sebagai pengalaman afektif, bukan hanya rangkaian gambar, sehingga kehilangan Ratri menciptakan ketegangan emosional yang dapat dirasakan secara langsung melalui perasaan hampa, kerentanan, dan ketidakmampuan mengendalikan nasib (Sobchack, 1992). Selain itu, ritme naratif dan pengalaman waktu yang dihadirkan film memfasilitasi perjalanan psikologis Kamanjaya agar dapat dialami secara lebih intens oleh penonton, sehingga kehilangan berfungsi sebagai pengalaman afektif, bukan sekadar kejadian naratif (Deleuze, 1989).

Hubungan Kamanjaya dengan Ratri juga menyoroti ketegangan antara aspirasi personal dan tuntutan sosial, di mana pengembangan karakter dan interaksi tokoh digunakan untuk mengekspresikan kondisi psikologis (Bordwell & Thompson, 2021). Kehilangan ini berperan sebagai katalis bagi konflik internal yang menggerakkan seluruh perjalanan naratif tokoh. Selain mengilustrasikan kehilangan emosional, pengalaman ini menunjukkan bagaimana tekanan norma patriarki dan ekspektasi bangsawan membentuk psikologi Kamanjaya.

Kehilangan yang dialami Kamanjaya bersifat eksistensial, muncul sebagai kesepian dan keterasingan yang tidak hanya terkait dengan putus hubungan, tetapi juga ketidakmampuannya menegakkan identitas sosial yang diharapkan. Sobchack (1992) menekankan bahwa identifikasi penonton dengan psikologi tokoh menimbulkan pengalaman afektif yang mendalam, sehingga kehilangan ini menjadi jembatan untuk memahami runtuhnya maskulinitas, ambivalensi relasi gender, dan trauma psikologis yang akan dianalisis selanjutnya.

Dengan demikian, kehilangan dalam Gowok bukan sekadar tragedi personal, melainkan medium yang menampilkan estetika pengalaman manusia: ketidakmampuan mencapai keutuhan, kegagalan memenuhi harapan sosial, dan ketegangan antara keinginan pribadi serta norma budaya membentuk psikologi dan narasi film.

Maskulinitas yang Runtuh: Krisis Identitas Kamanjaya

Kehilangan yang dialami Kamanjaya tidak berhenti pada dimensi emosional semata, tetapi secara langsung menggerakkan krisis identitas gendernya. Ketidakmampuannya mempertahankan hubungan dengan Ratri dan memenuhi ekspektasi sosial sebagai laki-laki bangsawan memicu runtuhnya maskulinitas hegemonik, yang selama ini menjadi standar dominasi dan otoritas dalam masyarakat patriarkal. Dengan demikian, kehilangan berfungsi sebagai jembatan naratif yang menghubungkan pengalaman personal dengan ketegangan sosial dan psikologis yang lebih luas.

Menurut Connell dan Messerschmidt (2005), hegemonic masculinity merupakan konstruksi sosial yang menekankan dominasi laki-laki, kemampuan mengontrol situasi, dan memegang otoritas atas lingkungan sosialnya. Dalam konteks Gowok, Kamanjaya menghadapi tekanan ini secara intens: selain gagal mempertahankan hubungan emosional, ia juga merasa tidak mampu memenuhi peran sosial serta tanggung jawab keluarga bangsawan. Sejalan dengan itu, Kimmel (2020) menegaskan bahwa krisis maskulinitas muncul ketika individu laki-laki tidak berhasil memenuhi ekspektasi peran gender, menghasilkan ketegangan psikologis, perasaan gagal, dan identitas yang goyah.

Runtuhnya maskulinitas Kamanjaya tampak jelas pada interaksi sosialnya, baik dengan figur otoritas, teman sebaya, maupun perempuan. Kondisi ini mencerminkan simultan antara kegagalan personal dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berlaku. Seperti yang ditunjukkan oleh Deleuze (1989), ritme naratif dan perkembangan karakter film membantu menekankan kondisi psikologis tokoh, sehingga krisis maskulinitas Kamanjaya tidak hanya dapat dianalisis secara konseptual tetapi juga dapat dirasakan oleh penonton secara afektif.

Hubungan antara kehilangan dan runtuhnya maskulinitas menjadi semakin jelas ketika menghadapi Ratri, yang berperan sebagai simbol aspirasi yang tidak tercapai dan tidak bisa dikendalikan. Ketidakmampuan Kamanjaya mempertahankan hubungan dengan Ratri memperkuat rasa ketidakberdayaan dan memunculkan tekanan psikologis yang meluas. Maskulinitasnya tidak hanya diuji oleh kegagalan romantik, tetapi juga oleh ketidakmampuan memenuhi tuntutan sosial dan budaya, sehingga pengalaman psikologis yang dialami mencakup dimensi personal, sosial, dan simbolik.

Selain itu, krisis ini mengungkap patriarki yang rapuh. Ekspektasi dominasi laki-laki dalam masyarakat tradisional sering bertabrakan dengan realitas personal, menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan. Dengan demikian, kegagalan Kamanjaya memenuhi konstruksi hegemonic masculinity menimbulkan rasa tidak aman, ketidakberdayaan, dan konflik internal yang menjadi inti pengalaman psikologis tokoh.

Tubuh Perempuan dan Ambivalensi Seksualitas: Negosiasi Kuasa

Runtuhnya maskulinitas Kamanjaya, yang dipicu oleh kehilangan Ratri, membuka ruang bagi analisis lebih dalam mengenai hubungan gender dan ambivalensi seksualitas dalam Gowok. Kehadiran Ratri bukan hanya elemen romantik atau simbol hasrat laki-laki, tetapi juga berfungsi sebagai agen naratif yang menantang dominasi patriarki sekaligus mengungkap ketegangan kuasa dalam relasi gender. Ketidakpastian posisi sosial dan emosional Kamanjaya memperlihatkan bagaimana kekuasaan, kerentanan, dan hasrat bercampur menjadi pengalaman psikologis yang kompleks.

Seksualitas perempuan dipahami bukan sekadar objek bagi laki-laki, melainkan subjekivitas yang memengaruhi relasi sosial dan pengalaman psikologis tokoh laki-laki, seperti yang dijelaskan oleh Irigaray (1985). Dalam Gowok, Ratri tampil sebagai figur aktif yang memengaruhi tindakan Kamanjaya, menguji kapasitasnya menegosiasikan identitas di tengah tekanan sosial dan patriarki. Kehadiran Ratri menunjukkan bahwa perempuan memiliki kuasa sendiri, sekaligus menjadi cermin bagi perasaan gagal dan kerentanan Kamanjaya setelah kehilangan dan runtuhnya maskulinitas.

Peran perempuan sebagai medium naratif yang membentuk pengalaman psikologis tokoh laki-laki juga ditekankan oleh Mulvey (1975), khususnya dalam konteks visual pleasure and narrative cinema. Tubuh Ratri tidak hanya memengaruhi hasrat Kamanjaya, tetapi berfungsi sebagai alat refleksi internal, di mana interaksi mereka menyoroti ketegangan antara dominasi dan kerentanan. Kamanjaya berupaya menguasai situasi dan mempertahankan maskulinitasnya, namun Ratri secara aktif menegosiasikan posisinya, sehingga pengalaman psikologis tokoh menjadi lebih ambivalen dan berlapis.

Selain itu, perempuan memiliki kemampuan menegosiasikan peran dalam sistem patriarki melalui strategi resistensi, fleksibilitas, dan refleksi diri, sebagaimana dicatat oleh McRobbie (2020). Dalam Gowok, Ratri memanfaatkan posisi sosial dan emosionalnya untuk mempertahankan kuasa naratif, menjadikan ambivalensi seksualitas sebagai arena negosiasi antara keinginan, kontrol, dan identitas gender. Fenomena ini bukan sekadar pengalaman personal Kamanjaya, tetapi juga cerminan struktur sosial yang lebih luas, di mana tekanan patriarki dan norma gender membentuk perilaku dan psikologi individu.

Dengan demikian, keberadaan Ratri menegaskan keterkaitan antara kehilangan, runtuhnya maskulinitas, dan ambivalensi relasi gender. Kegagalan Kamanjaya dalam mempertahankan identitas maskulinnya setelah kehilangan Ratri menjadikan hubungan mereka medan negosiasi kuasa dan refleksi psikologis yang kompleks. Tubuh perempuan, dalam konteks ini, berfungsi sebagai medium ekspresi ketegangan sosial dan psikologis, sekaligus menyoroti kontradiksi antara ekspektasi patriarki dan realitas interaksi manusia.

Psikologi Trauma dan Rasa Bersalah: Tekanan Psikologis Kamanjaya

Ambivalensi relasi antara Kamanjaya dan Ratri, yang muncul sebagai konsekuensi dari runtuhnya maskulinitas dan negosiasi kuasa perempuan, menghadirkan lapisan pengalaman psikologis yang lebih dalam, yaitu trauma dan rasa bersalah. Kamanjaya dihadapkan pada ketegangan internal yang kompleks karena kegagalannya memenuhi harapan sosial, emosional, dan moral, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Trauma yang dialaminya tidak hanya akibat kehilangan fisik, tetapi juga terkait dengan represi, ketidakmampuan mengendalikan situasi, serta memori yang berulang menghadirkan kegagalan secara terus-menerus.

Seperti dijelaskan oleh Caruth (1996), trauma merupakan pengalaman yang sulit diintegrasikan ke dalam kesadaran dan sering muncul melalui bentuk pengulangan atau dampak psikologis yang tak terduga. Kehilangan Ratri, dipadukan dengan kegagalan Kamanjaya menegakkan maskulinitas hegemonik, menimbulkan pengalaman trauma berulang. Dalam situasi ini, perasaan gagal, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah terus-menerus muncul, mengikat pengalaman kehilangan dengan krisis identitas gender dan ambivalensi relasi, membentuk narasi psikologis yang kompleks dan berlapis.

Dalam Beyond the Pleasure Principle (1920), Freud menekankan bahwa rasa bersalah muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara keinginan, moralitas internal, dan ekspektasi sosial. Kamanjaya menghadapi dilema antara hasrat pribadi, tanggung jawab sosial, dan norma budaya, sehingga rasa bersalah menjadi inti dari pengalaman psikologisnya. Keinginannya mempertahankan hubungan dan identitas maskulinnya bertentangan dengan kenyataan, menimbulkan tekanan emosional yang signifikan.

Van der Kolk (2014) juga menyoroti bahwa trauma tidak hanya memengaruhi kesadaran, tetapi juga tubuh dan perilaku. Kamanjaya memperlihatkan reaksi psikologis yang kompleks, termasuk kesulitan dalam mengambil keputusan, kecemasan yang mendalam, dan perasaan terperangkap dalam situasi di luar kendalinya. Trauma dan rasa bersalah ini menjadi medium naratif yang memungkinkan penonton memahami pengalaman internal tokoh, memperdalam keterlibatan afektif, dan menegaskan keterkaitan antara kehilangan, krisis maskulinitas, dan ambivalensi relasi gender.

Lebih jauh, pengalaman trauma Kamanjaya juga mencerminkan ketegangan sosial yang lebih luas. Ekspektasi patriarki yang rigid, tekanan sosial terhadap laki-laki, dan ketidakmampuan memenuhi harapan membuat individu rentan terhadap perasaan gagal dan trauma psikologis. Gowok menekankan bahwa trauma tidak bersifat personal semata, melainkan terkait erat dengan konteks budaya, struktur sosial, dan norma gender yang membentuk perilaku dan identitas individu.

Refleksi Sosial Budaya dan Jejak Sejarah Gowok

Pengalaman personal Kamanjaya, kehilangan, krisis maskulinitas, ambivalensi relasi gender, trauma, dan rasa bersalah, tidak bisa dibaca semata sebagai kisah individu. Ia adalah gambaran dari struktur sosial yang lebih luas. Gowok menunjukkan rapuhnya patriarki, kerasnya ekspektasi sosial terhadap laki-laki, serta rumitnya negosiasi kuasa dalam relasi gender di masyarakat Indonesia.

Budaya layar kita sering jadi arena tarik-menarik antara tradisi dan modernitas. Kamanjaya adalah representasi manusia yang terhimpit di antaranya. Ia dituntut menjaga kehormatan keluarga bangsawan, tetapi juga dilanda dilema batin sebagai individu yang rapuh. Kehilangan yang ia alami menjadi simbol bagi tekanan sosial yang lebih besar, masyarakat yang masih menaruh beban besar pada “kejantanan” laki-laki, seolah kegagalan personal adalah kegagalan seluruh tatanan keluarga dan kelas sosial.

Namun, Gowok juga membuka pintu pembacaan sejarah. Dalam tradisi Jawa, sosok “gowok” pernah benar-benar ada, yaitu perempuan dewasa yang mendampingi, membimbing, sekaligus mengajarkan seksualitas pada pemuda bangsawan. Profesi ini pada masanya dianggap bagian dari tata sosial, sebuah bentuk pendidikan seks yang dilembagakan dalam struktur budaya Jawa. Akan tetapi, seiring masuknya moralitas kolonial Belanda, kemudian diperkuat oleh moral agama dan tatanan sosial pasca-Orde Baru, profesi gowok perlahan dipandang tidak bermoral. Praktik itu pun surut, hilang, dan tinggal tersisa dalam teks, ingatan, atau kisah-kisah yang kini kerap dianggap tabu.

Dengan menghadirkan kembali figur gowok ke layar lebar, Hanung seakan menantang kita. Apakah kita mau mengingat kembali masa lalu yang pernah dianggap lumrah, atau tetap memandangnya sebagai noda moral? Di titik ini, Gowok bukan sekadar drama erotik atau kisah psikologis, melainkan cermin bagi pergulatan kita sebagai bangsa. Antara menerima sejarah atau menutupinya, antara memahami seksualitas sebagai bagian dari budaya atau menyingkirkannya ke ruang gelap tabu.

Seperti dicatat Brenner (2022), konflik antara tradisi, aspirasi individual, dan relasi gender selalu membentuk pengalaman sosial yang kompleks di Jawa. Gowok menegaskan hal itu. Krisis personal Kamanjaya hanyalah pintu masuk menuju pertanyaan lebih besar tentang bagaimana kita memandang tubuh, kuasa, dan moralitas di Indonesia hari ini.

Referensi

Bordwell, D., & Thompson, K. (2021). Film art: An introduction (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Brenner, S. (2022). Javanese lives: Women and men in modern Indonesian society. University of California Press.

Caruth, C. (1996). Unclaimed experience: Trauma, narrative, and history. Johns Hopkins University Press.

Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society, 19(6), 829–859. https://doi.org/10.1177/0891243205278639

Deleuze, G. (1989). Cinema 2: The time-image. University of Minnesota Press.

Freud, S. (1920). Beyond the pleasure principle. The International Psycho-Analytical Press.

Irigaray, L. (1985). This sex which is not one. Cornell University Press.

Kimmel, M. (2020). Healing from hate: How young men get into — and out of — violent extremism. University of California Press.

McRobbie, A. (2020). Feminism and the politics of resilience: Essays on gender, media and the end of welfare. Polity Press.

Mulvey, L. (1975). Visual pleasure and narrative cinema. Screen, 16(3), 6–18. https://doi.org/10.1093/screen/16.3.6

Sobchack, V. (1992). The address of the eye: A phenomenology of film experience. Princeton University Press.

Van der Kolk, B. (2014). The body keeps the score: Brain, mind, and body in the healing of trauma. Viking.

Bagikan Artikel:

Link berhasil disalin!